22 Juni 2012

Omang - omang dalam gelas

Oleh : Bonk AVA





Udara di luar rumah tak sedingin biasanya. Warna biru di langit sudah cerah, meski matahari belum menampakkan hidungnya. Pintu gerbang setengah terbuka. Ibu pasti sudah pergi ke pasar, pikirku. Aku melakukan olahraga kecil seperti menggoyang - goyangkan leher, tangan, pinggang, kaki dan lari - lari di tempat. Seperti kata ibu, agar hidup sehat terhindar dari bermacam - macam penyakit.

Seorang ibu menyapaku dan menyodorkan senyuman begitu melihatku. Dia menjinjing belanjaan bersama Si Dion yang mengekor di belakang ibunya. Begitu aku melihat Si Dion, aku menghampirinya, menggodanya. Dia seperti tak peduli padaku. Terlalu serius mengutak - ngatik rubik kesayangannya. Aku terus nmengamati mereka sampai hilang dari pandanganku. Kapan terakhir kali ibu mengajakku pergi  ke pasar? tidak pernah sekalipun ibu mengajakku pergi ke pasar.

15 Juni 2012

demam EURO 2012

Aku ketiduran saat babak kedua antara Itali versus Kroasia berlangsung. Terasa ada yang menampar pipiku, dan aku buka mata. Eh, Itali kebobolan satu gol. Waktu pertandingan mau habis, aku berusaha untuk tidur lagi. Tapi malah nggak bisa tidur. Karena kangen, kepikiran buat ngeblog lagi. Aku ambil buku tulis, dan buat postingan blog. Sekalian buat nyapa teman teman blogger semuanya. Gimana kabar ? hehe

18 Juni 2011

pupus

Keinginan jadi blogger sejati tampaknya semakin kabur. Saya harus mengutamakan prioritas utama saya. Kegiatan ngeblog ini termasuk prioritas terakhir. Ada banyak prioritas utama saya, tak perlulah diceritakan disini, karena sifatya sangat pribadi.

11 Juni 2011

karena perempuan

Kau masih ingat, kita selalu kumpul bareng genk di depan distro kita, maaf, sekarang distro itu hanya milikku. Dan kau tak lagi memilikinya. Kau pergi dengan muka darah. Semua karena perempuan. Iya, dia perempuan bangsat. Seharusnya perempuan itu tidak masuk ke dalam nafas kita.

4 Juni 2011

sebuah pensil

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat. “Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?” Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.” “Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi.