13 Februari 2010

aku

“ambil pisau besar itu, tancapkan tepat di jantung ayahmu” suara jahat itu terus terngiang di kepalaku.

Ini kesempatan, aku membelakangi ayahku yang sedang makan di dapur. Pisau ada di genggamanku sekarang. Tinggal membacoknya dari belakang, menguliti bagian tubuhnya


Tapi tidak, suara lain muncul di kepalaku “jangan, walau kau sering di marah ayahmu, tapi lihat sisi positifnya, dia memarahimu mungkin karena dia sayang kau” bujuk suara baik.

Benar juga yang di katakan suara baik. aku meletakkan kembali pisau di baskom, pisau itu baru saja digunakan untuk memotong semangka. Terkadang jarang suara baik muncul ketika aku membutuhkan untuk meredakan amarahku, lebih sering suara jahat menasehatiku untuk berbuat keji di saat suasana apapun; marah, sedih gelisah, bahkan bersenang-senangpun dia selalu muncul.

Pernah aku nginap di bui semalam karena ulah suara jahat yang merayuku untuk mencuri uang di warung bu Yoga, pernah juga di keroyok warga karena aku hampir memperkosa gadis 15 tahun.

Kalau hari ini suara baik tidak menasehatiku, mungkin aku sudah membuat ayahku tidak bernyawa lagi di tanganku. Belakangan aku semakin geram melihat ayahku yang bertingkah laku seperti dunia ini hanya miliknya, dia terus mengatur hidupku. Kau tahu berapa usiaku sekarang 25 tahun. Ternyata masih ada anak laki-laki dewasa di suapin nasi oleh ayahnya. Terkecuali laki-laki itu punya penyakit jiwa nomor 1. yaitu penyakit gila yang tidak bisa di tolong lagi jiwanya. tapi laki-laki itu bukan aku.

Kalau aku berhasil membunuh ayahku, aku bisa di hukum gantung, bukan saja di hukum gantung yang ada di Negara ini, tapi juga di akhirat.

“kenapa kau berdiri di situ, hah, bukankah kau akan berangkat kerja, pergi sana”kata ayahku sambil mengunyah sisa nasi di mulutnya. dia benar, aku harus pergi karena aku muak ada di dekatnya, kalau tidak dia bisa mati dengan mulut mengangga, dada berlubang penuh darah, tentu saja kalau aku menuruti suara jahatku, ah, andai suara baik sialan itu tidak menghalangi suara jahat.

Aku keluar meninggalkan dapur, tepatnya meninggalkan ayahku, tapi langkahku terhenti ketika sebuah tangan menyentuh bahuku. “kau mau kemana? Hah, bukankah kau seharusnya sarapan dulu?” aku membalikkan badan , sedetik kemudian aku berhadapan denga ayahku yang mengunyah semangka di tangan lagi satunya.

Aku menunduk, menuruti maunya, melangkah tidak bersemangat, duduk meloyorkan tubuhku di kursi meja makan, aku mengambil piring dengan nasi sedikit, tanpa lauk, hanya nasi dengan semangka.

“kau sudah gajian kan?” Tanya ayahku disaat aku mulai makan dengan suapan pertama. Aku meletakan sendok di piring, mengangguk pelan, kemudian aku tidak berani menatap ayahku , aku menundukkan kepala diam.

“mana?” tanganya menodong berbalik ke arahku. Aku mengeluarkan dompet di saku belakang celana jinsku. Ku keluarkan tiga lembar uang seratus ribu. Itu banyak jumlah uang yang harus aku setor kepada ayahku setiap dia meminta uang gajiku.

9 comment:

kai mengatakan...

a bit like me..

ucha mengatakan...

Nice story..

Okkots mengatakan...

kelanjutannya dong.... nice blog.... brown color.... interesting

Thanks sudah mampir ke blog ku yah

Cipu mengatakan...

hmmm saya belom tau karakter ayah yang sebenarnya... tapi sepertinya ayah nya suka minta duit. :)

Darin mengatakan...

Anda berbakat banget jadi cerpenis, bahkan novelis. atau jangan2 emang dah launching nih? :D Teruskan sob, hmm, saran saya, pake template yg terang dikit sob, biar bacanya adem..
Trims dah berkunjung :)

Semut mengatakan...

Ntu bukan karakter yg diciptakan seperti mirip dirisendiri kn??
:x

Anonim mengatakan...

cerpennya bagus bro, loe jadi cerpenis aja B-)

richo mengatakan...

wah kejam ceritanya

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

met wiken. kok, serem..ada pisaunya nih

Posting Komentar