10 Maret 2010

terlantarkan

Barudin mengayunkan kakinya dengan cepat, meninggalkan tempat kost. Dia masih mendengarkan tangisan anaknya di dalam kamar kost. Jembatan di jalan Gatot Subroto sudah menanti Barudin, di bawah jembatan ladang yang dalam siap mengantar Barudin pada kematian. Barudin membuang kunci kamar kost ke bawah jembatan, dia siap melompat dari jembatan menuju kematian.


Tapi dia tidak mengetahui ditengah malam jalanan tidak terlalu sepi. Sebuah tangan menggenggam tangannya, menghentikan rencana bunuh dirinya “apa yang bapak lakukan ? “ seorang anak muda menarik tangan Barudin, menjauhinya dari jembatan.

Barudin membungkuk, menutup wajahnya dengan telapak tangan, dan menangis.

“ ada apa ? “ anak muda itu mendekati Barudin , mencoba menolongnya.

“ saya tidak sanggup lagi, setelah ditinggal istri saya, saya tidak mampu memberi makan anak saya “ Barudin menyeka airmatanya “ sundel itu cari suami kaya tidak mengajak anaknya “ Barudin mengepalkan tinjunya di jalan.

“ kenapa bapak mesti bunuh diri, itu bukan jalan satu – satunya menyelamatkan anak bapak, saya tahu bapak sayang pada anak bapak. Tapi bukan begini caranya, kalo bapak meninggal, lantas anak bapak bagaimana ? bapak harus bertanggung jawab dengan keadaan anak bapak “ anak muda itu berusaha menyadarkan barudin “ sekarang anak bapak di mana ? ‘

“ saya kunci di kamar kost “

“ sendirian ? “

Barudin menganggukkan kepalanya dan menangis lagi.

Anak muda itu menepuk bahu Barudin. “ bapak masih bekerja ? “

Barudin menggelengkan kepala “ kalo saya masih bekerja, saya tidak mungkin melakukan ini semua, tolong saya dik “

“ ayah saya punya garmen sekitar sini, nanti saya ajak bapak bejerja digarmen ayah saya “

Barudin memeluk anak muda itu, pulang menjemput anaknya di tempat kost.

15 comment:

Harry Seenthings mengatakan...

wakh sungguh luar biasa ceritanya, salam kenal

richo mengatakan...

wah contoh yang baik, mau menolong orang lain

Darin mengatakan...

sepotong cerita singkat namun penuh makna..
saya terharu, membayangkan anak yang terkunci di kamar itu.. :(

nuansa pena mengatakan...

ending yang bagus!

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

pendek tapi padat. wah, bunuh diri?

albertus goentoer tjahjadi mengatakan...

ah... anak muda itu sungguh seorang malaikat...

Dimas mengatakan...

sudah menyelamatkan sebuah nyawa, ditambah memberikan kebahagiaan dengan memberi pekerjaan..

Dek Yusron mengatakan...

artikel sobat keren banget sangat berguna lagi... please komen balik ya... di:
Kegiatan Sholat Dhuha Di Sekolah Ku

kalau berkenan sekalian di follow blognya

03agoenk mengatakan...

kunjungan pertama n salam kenal.....

berita untuk negri mengatakan...

bunuh diri adalah tanda putus asa,,mudah2an cerita ini dibaca dan bukan di lewatkan,,,cerita yang penuh makna sob..

bintang mengatakan...

jadi follower dulu mas, komen nya besok
asli udah ngantuk banget hehehe

makasih udah mampir ke blog saya yah

catatan kecilku mengatakan...

Aduh.., cerita tentang rencana bunuh diri ? Memang akhir-2 ini bunuh diri jadi trend utk lari dari masalah..

the others mengatakan...

Kasihan sekali anaknya terkunci di rumah... pasti ketakutan dan kelaparan. Kasihan..

Kang Sugeng mengatakan...

wuaaaah... cuma gara-gara ndak bisa ngasi makan anaknya aja sampai mau bunuh diri segala...

03agoenk mengatakan...

bonk ava niy pasti lucu n gokil ya orangnya.....
saya salut ama orang yang gokil, coz bisa membuat orang ketawa ngakak....

seperti commentnya pada blog saya, great n good....
hehehe.....
^_^

Posting Komentar